Setahun Terbaik Dalam Hidup Saya

DSC00096

Kalo ditanya, “Andai kamu dibolehkan mengulang satu tahun dalam hidupmu, tahun mana yang akan kau ulang?”

Apa jawab Anda?

Pikir…

Pikir lagi…

Yakin?

Oke, simpan dulu jawaban Anda, karena saya mau cerita.

Kira-kira sehari sebelum bulan puasa, saya sama keluarga nyekar ke makam orangtuanya papa saya. Tempatnya jauh dari Blitar, jauh juga dari Surabaya. Lebih jauh lagi kalo dari Fak-fak.

My mom di makam bapak mertuanya :P

My mom di makam bapak mertuanya :P

Perjalanan yang panjang sebetulnya merupakan masalah buat saya karena… ahh… mungkin silit saya ini made in China, umur segini udah rusak. Tapi masalah silit harus saya lupakan, sebab tujuannya adalah desa kelahiran papa saya. Desa yang penuh kenangan dan inspirasi bagi saya pribadi.

Pernah dengar cerita tentang orang Samin? Yang pernah makan sekolahan pasti pernah belajar tentang sejarah orang Samin. Kalo lupa, Google belum tutup usaha kok ;)

Dalam diri saya mengalir darah Samin. Orang Samin itu tidak mau diatur begitu saja, Samin punya aturan sendiri. Begitu pula saya. Orang Samin berhati tulus, dan lembut, meskipun bicaranya kasar. Begitu pula… ehemm!!!

Masih banyak detil lain yang nggak mungkin saya jembretkan di sini… males ngetiknya. Intinya, Samin is cool. Nggak senegatif yang dulu pernah diterangkan guru saya yang super sotoy. Mungkin kalo dia tau ada Samin di kelasnya, dia bakal malu. Untung waktu itu saya sendiri belum tau kalo saya ini Samin dan pernah hidup dalam lingkungan orang Samin selama satu tahun penuh — di desanya papa saya.

Saya dan mantan sekolahan di desa :D

Saya dan mantan sekolahan di desa :D

Selama 30-an tahun saya hidup, saya pernah tinggal di beragam kota dan lokasi di Indonesia. Keluarga saya nomaden. Saya kadang bocah ndeso, kadang nona metropolitan. Kadang saya anak kampung, kadang cewek gedongan. Di manapun tempatnya, bagaimanapun kondisinya, apapun bahasanya, saya harus dan (untungnya) selalu bisa menyesuaikan diri. Tapi cuma di desa orang Samin saya merasa tak perlu beradaptasi. Ada sejenis rasa kedamaian yang indah ketika kita bisa mengalir saja sebagai diri sendiri, tak sekejap pun perlu menjadi sesuatu yang lain cuma demi diterima sekitar kita. Dari situ saya jadi mengenal diri saya.

Setelah setahun di sana, waktunya pindah kota lagi. Saya bawa serta apa-apa yang saya temukan di sana.

Ketulusan.

Kejujuran.

Kesederhanaan.

Serta keberanian untuk berkata tidak pada semua yang merasa berkuasa atas diri saya.

Sejak meninggalkan desa itu 20-an tahun yang lalu, saya tak pernah mau berubah kalo cuma untuk sekedar diterima di lingkungan saya yang baru. Saya adalah saya, mereka suka atau nggak itu bukan urusan saya.

….

Dunia di luar desa orang Samin bagi saya seperti… seperti kata Om Ahmad Albar: panggung sandiwara. Banyak kepura-puraan. Bahkan saya rasa terlalu banyak sehingga saya sering ngayal punya pulau sendiri, mendirikan negara sendiri di atasnya, bersama semua orang yang paling saya cintai. Tapi mikir harga pulau…

Akhirnya saya ngayal punya mesin waktu. Ingin saya mengulang masa setahun saya di desa itu. Sangat ingin.

 

Asongan On Facebook

Terakhir naik kereta ekonomi, Blitar-Surabaya, saya perhatikan jumlah pedagang asongan nampaknya menurun cukup drastis. Saya bilang ‘nampaknya’ karena saya sendiri gak yakin apakah (1) jumlah mereka memang berkurang, atau (2) pas saya naik kereta mereka lagi summer holiday ke manaaa gitu…, atau (3) saya nggak liat karena memang sering sengaja merem pura-pura tidur pas mereka pada lewat…

Pokoknya setau saya mereka nggak sebanyak dulu. Dulu mereka jualan tuh sampe mengular berdempet-dempet di tengah gerbong sambil lomba teriak — menyesakkan dunia semua orang kere yang sudah merasa sengsara jauh sebelum kehadiran mereka di kereta bau itu — sekarang cuma yaaah… Sekali-kali aja lewatnya…

Jadinya sekarang kalo naik kereta ekonomi jurusan Blitar-Surabaya, dan sebaliknya, saya nggak harus selalu menyumpal telinga saya dengan musik metal-dut yang disetel full volume hanya demi menghindari teriakan-teriakan asongan yang nadanya jelas…random…

Saya nggak menghina, memang begitu kenyataannya. Random. Kan…? Nadanya…? Iya kan?

Selain nggak harus nutup kuping, saya juga nggak harus nutup mata hanya demi biar nggak ditawarin dagangan para pengasong kereta. Dengan demikian, makin banyak penampakan-penampakan seger yang bisa saya cerapi dengan seksama. Yang saya maksut dengan penampakan seger di sini bisa sawah, punggung-punggung gunung, berondong seksi… Uhuk!! *batuk darah

Turun kereta, trus ngesot, sampe rumah mood masih ceria meski agak capek. Nggak terlalu bete. Dan biasa saya kalo lagi seneng pasti sambil mantengin timeline di Facebook. Kalo ada status yang layak dilabrak, saya labrak. In a good way, of course.

Baca punya baca, scroll punya scroll, saya perhatikan, makin hari kok makin banyak aja yang jualan di Facebook. Sampe cabe keriting pun ada! Yang belum ada mungkin cuma pedagang yang jualan temannya sendiri…

!!!NEW!!! Andre Hartanto. Bisa digantung, dikoleksi, atau buat mainan anak. Cuma 30.000 aja sist! Buruan sebelum diorder yang lain!!!

Ahh… Sayangnya ga ada…

Lanjut…

Dengan menurunnya jumlah pedagang asongan di kereta yang sering saya tumpaki, yang ternyata diikuti oleh meningkatnya jumlah pedagang asongan di Facebook, saya jadi mikir… apa pedagang asongan yang di kereta itu pada pindah ladang ke Facebook ya? Mungkin yang dulu suka teriak-teriakin kerupuk ikan, sekarang jualan hape supercopy? Mungkin yang dulu suka tau-tau ngelemparin remote TV ke paha saya sekarang jualan gamis modern? Dan yang dulu jualan buku mewarnai mungkin sekarang jualan krim pembesar payudara?

Dengan segala ketulusan hati saya berharap yang jualan di Facebook itu memang mereka… Alhamdulillah lah yaaah… Saya ikut senang :) Bagi saya itu merupakan kemajuan, peningkatan. Meski mungkin kadang hasilnya nggak sebanyak jualan di spoor, setidaknya mereka nggak perlu teriak-teriak lagi. Dan saya bisa menghemat batre hape karena nggak perlu muter musrik kenceng-kenceng sepanjang perjalanan saya. Well, cukup scroll down sedikit dan mereka pun terlupakan.

Hai!

Lama nggak nulis, diajak ngetik jari-jari ini rasa kaku jadinya. Otak juga gak gablek ide, seakan dunia ini sudah kehabisan topik yang menarik untuk ditulis.

Okay so, selama gak nulis, saya sibuk sendiri. Sempat kerja di stasiun TV dan itu menyita hampir seluruh waktu saya sampe akhirnya saya memutuskan out setelah 40 hari bertahan dengan jam kerja yang panjang dan gaji yang… yaaah gitu deh… Meski sebetulnya saya kerja di situ nggak nyari duitnya, tapi lama-lama tersiksa juga. Tiap hari kerja bisa 10 jam, kadang 12 jam nggak ketemu anak-anak. Pulang kerja anak-anak sudah tidur. Pagi baru bangun tidur badan saya sudah capek duluan, gak ada tenaga buat ngurus anak-anak. Weleh, boro-boro ngurus anak… buat main sama anak aja gak kuat.

Trus keluar… ngurusin bisnis yang seret. Kadang berkebun dan menyaksikan kematian demi kematian tanaman saya yang kalo dilihat dari usianya sebetulnya belum pantas mati. Kadang ya nyanyi-nyanyi kalo pas kurang kerjaan. Kalo lagi iseng notok, nyanyinya sambil direkam, trus kalo lagi pede ngepol… upload ke Soundcloud.

 

Sudah dulu. Mau nyiapin sarapan… Nanti sore saya ngoceh lagi :D

feat-img

6 Elemen Kimia Yang Menarik dan (Sempat) Bikin (Saya) Penasaran

 VANADIUM (V-23)

1-vanadiumDitemukan pada tahun 1801, nama Vanadium diambil dari nama seorang dewi Norwegia, Vanadis, karena warna-warnanya yang cantik. Tapi bukan sekedar cantik, ia juga mineral yang sangat kuat — bahkan terlalu kuat jika digunakan langsung tanpa dicampur bahan lain.

85% dari keseluruhan produksi vanadium disalurkan untuk produksi baja. 10% untuk produksi mesin jet (dicampurkan dengan titanium), dan 5% sisanya untuk kebutuhan lainnya.

Di sisi lain, elemen satu ini merupakan elemen dasar bagi beberapa makhluk hidup seperti hewan laut bernama bulu babi. Pada tubuh manusia, vanadium dapat berperan seperti insulin, dan dapat juga membantu meningkatkan efek insulin. Karena itu, vanadium kerap digunakan dalam perawatan penderita diabetes, dan sejumlah masalah kesehatan lainnya seperti gula darah rendah, kolesterol tinggi, penyakit jantung, TBC, sifilis, anemia, edema, kanker, juga untuk meningkatkan performa dalam olahraga angkat beban.

GERMANIUM (Ge-32)

2-germaniumGermanium tersedia dalam dua bentuk: organik dan non-organik. Germanium non-organik yang merupakan hasil sampingan dari pemrosesan mineral seng (zinc), lazim dikenal sebagai bahan pembuatan transistor, IC dan sejumlah komponen elektronik lainnya. Sedangkan germanium organik dikenal dapat membunuh bakteri dan ditemukan dalam bahan makanan seperti ginseng, bawang putih, serta lidah buaya.

KRYPTON (Kr-36)

3-kryptonKrypton adalah gas tak berbau, tak berwarna, dan tak beracun yang langka. Kita bisa menemukan krypton (dikombinasikan dengan argon) dalam lampu fluorescent rumahan, juga lampu flash untuk fotografi. Mungkin itulah kenapa Superman tak pernah muncul di sekitar kita — takut sama lampu dan kamera foto!

Meski tergolong tak beracun, menghirup krypton dalam jumlah berlebih dapat mengakibatkan pusing, mual, muntah, atau bahkan tak sadarkan diri. Kematian dapat terjadi jika korban pingsan di tengah jalan tol yang ramai lancar :P

RUTHENIUM (Ru-44)

4-ruthenium

Dengan titik didih di atas 4000 °C, ruthenium merupakan salah satu anggota keluarga mineral platinum (anggota lainnya: rhodium, palladium, osmium, iridium, dan tentu saja, platinum). Ia juga tergolong sangat langka dan biasanya hanya digunakan untuk membuat platinum dan palladium jadi makin anti-aus. Menariknya, ruthenium juga digunakan pada beberapa tipe pena Parker. Seperti pada Parker 51 yang ujungnya bertanda ‘RU’, terdapat kandungan 96,2% ruthenium dan 3,8% iridium.

CESIUM (Cs-55)

5-cesiumBerwana emas keperakan, cesium adalah satu dari beberapa macam metal yang mencair pada suhu 28,4 °C atau suhu ruang, dan merupakan elemen yang sangat reaktif. Jika terkena air, cesium akan meledak dan meninggalkan cesium hidroksida (CsOH) yang dapat mengikis kaca dengan cepat.

Cesium dikenal sebagai bahan. yang digunakan dalam jam atom seperti NIST-F1 milik Amerika Serikat yang sangat akurat. Jam atom seperti ini diperkirakan tidak akan meleset sedetikpun dalam kurun waktu lebih dari 60 juta tahun. Pertanyaannya, apa jam atomnya bakal masih ada 60 juta tahun nanti?

HOLMIUM (Ho-67)

6-holmiumMeski tergolong langka, sebetulnya jumlah holmium di dunia ini 20 kali lebih banyak dibanding perak. Namun, seperti halnya elemen-elemen langka yang lain, holmium umumnya bukan elemen bebas — ia diperoleh dari dalam mineral lain seperti monasit dan bastanasit.

Holmium memiliki sifat magnetik yang luar biasa. Karena keistimewaannya ini, ia digunakan dalam produksi magnet. Dalam bentuk lainnya, yakni Holmia (holmium oxide) digunakan untuk membuat kaca berwarna kuning atau merah. Meski nampaknya agak beracun, holmium dapat menstimulasi kerja sistem metabolisme tubuh dan dipakai dalam perawatan penderita kanker serta batu ginjal. Tambang holmium terbesar ada di Cina, Amerika Serikat, Brazilia, India, Sri Lanka dan Australia.


 

PS: Dikumpulkan dari USGS Minerals, Chemicool.comCancer.org dan Lenntech.com. Mohon dikoreksi bila ada informasi yang tidak akurat.

Royal starfish (Astropecten articulatus)

6 Bintang Laut Tercantik di Dunia (versi anak saya hehe…)

Crown-of-thorns starfish (Acanthaster planci)

Seperti diisyaratkan dalam namanya,  hewan ini memiliki duri-duri di sekujur tubuhnya — dan durinya berbisa, pemirsa! A. planci tersebar luas di seluruh dunia, terutama di perairan subtropis dari Laut Merah hingga Samudera Hindia, juga dari Samudera Pasifik sampai pesisir barat Amerika Tengah.

A. planci dewasa biasanya berukuran 25-35 cm dengan 21 tangan. Sebagai pemakan terumbu karang, seekor A. planci dewasa bisa melahap 6 meter persegi terumbu karang setiap tahunnya. Karena itu, spesies ini bisa menjadi ancaman terhadap kelestarian terumbu karang  jika populasinya terlalu tinggi.

Egyptian sea star (Gomophia egyptiaca)

Egyptian sea star atau Bintang Laut Mesir hanya ditemukan di pesisir Afrika Timur dan Madagaskar pada kedalaman sekitar 6-7 meter. Seperti kebanyakan bintang laut lainnya, G. egyptiaca bisa meregenerasi sendiri bagian-bagian tubuhnya yang rusak, terputus atau sengaja dilepaskannya sendiri untuk mengelabui lawannya.

Granulated sea star (Choriaster granulatus)

Bintang laut nan gembul ini dapat ditemukan sedang asik makan lumut, terumbu dan bangkai-bangkai hewan di atas karang perairan dangkal di seluruh dunia. C. granulatus dapat tumbuh hingga 27 cm.

Panamic cushion star (Pentaceraster cumingi)

Anggun dan lemah gemulai, mungkin bisa jadi sebutan yang cocok buat P. cumingi. Spesies ini dapat ditemukan di sekitar Semenanjung Panama dan Kepulauan Mutiara hingga ke bagian utara Samudera Pasifik. Mereka adalah pemangsa remis dan teritip dan dapat tumbuh hingga 45 cm.

Fakta menariknya, P. cumingi butuh waktu hingga 6 jam hanya untuk ‘mengunyah’ seekor remis. Itulah kenapa saya menyebutnya lemah gemulai.

Royal starfish (Astropecten articulatus)

Di sepanjang pesisir timur Amerika Utara, ada satu jenis bintang laut cantik bernama Royal Starfish (Astropecten articulatus) atau mungkin Bintang Laut Raja jika dibahasa-indonesiakan. Meski dapat hidup di kedalaman 2 km, A. articulatus lebih suka tinggal di kedalaman 200-300 meter di bawah laut.

Tidak seperti kebanyakan jenis bintang laut lainnya, A. articulatus memakan mangsanya utuh-utuh. Cangkang kerang atau rumah siput laut bukan masalah karena mulut mereka mempunyai 5 rahang yang kuat. Tangan A. articulatus dapaat tumbuh hingga 9 cm.

Sunflower star (Pycnopodia helianthoides)

Bintang laut matahari adalah jenis bintang laut terbesar di dunia. Ukurannya bisa mencapai 1 meter dengan 16-24 tangan. Meski berukuran raksasa, bintang laut ini tergolong gesit. Mereka bisa bergerak secepat 1 meter per menit dengan menggunakan 15.000 kakinya yang berbentuk tabung-tabung kecil di bagian bawah tubuhnya.

P. helianthoides dapat ditemukan sedang menyantap bulu babi, kerang, atau siput laut di pesisir Amerika Utara, mulai Alaska hingga California.

 

PS: Sekedar catatan buat dongengin anak saya. Dikumpulkan dari berbagai sumber (terutama Wikipedia hehe…) keakuratan informasi mungkin perlu diragukan.

Prepositions — Pake ‘on’ atau ‘at’ atau ‘in’?

Preposition adalah kata sambung dalam kalimat, seperti ‘on’, ‘at’, dan ‘in’ yang akan kita bahas kali ini. Preposition biasanya digunakan untuk menunjukkan arah, lokasi, waktu, atau memperkenalkan suatu obyek.

Tak ada aturan atau rumusan baku dalam memilih dan menggunakan preposition atau kata sambung. Namun kita bisa mempelajari penggunaannya dengan mengidentifikasi kata sambung dalam kalimat bahasa Inggris yang kita baca atau dengar. Berikut beberapa contoh penggunaan ‘on’, ‘at’, dan ‘in’.

On

  • I put an egg on the kitchen table.
  • The paper is on my desk.
  • The garbage truck comes on Wednesdays.
  • I was born on the 14th day of June in 1988.
  • He is on the phone right now.
  • She has been on the computer since this morning.
  • My favorite movie will be on TV tonight.
  • The stick hit me on my shoulder.
  • He kissed me on my cheek.
  • I wear a ring on my finger.
  • Everything in this store is on sale.
  • The building is on fire.

At

  • I will meet you at 12 p.m.
  • The bus will stop here at 5:45 p.m.
  • There is a party at the club house.
  • There were hundreds of people at the park.
  • We saw a baseball game at the stadium.
  • Please email me at abc@defg.com.
  • He laughed at my acting.
  • I am good at drawing a portrait.

In

  • She always reads newspapers in the morning.
  • In the summer, we have a rainy season for three weeks.
  • The new semester will start in March.
  • She looked me directly in the eyes.
  • I am currently staying in a hotel.
  • My hometown is Los Angeles, which is in California.
  • This painting is mostly in blue.
  • The students stood in a circle.
  • This jacket comes in four different sizes.
  • In preparing for the final report, we revised the tone three times.
  • A catch phrase needs to be impressive in marketing a product.
  • I believe in the next life.
  • We are not interested in gambling.

Diterjemahkan dan disesuaikan dari: TalkEnglish.com | Prepositions, “On”, “At”, and “In”

PS: English Notes adalah kumpulan catatan penulis dalam hal bahasa Inggris. Ditulis berdasar pengetahuan dan pengalaman pribadi — koreksi, saran, dan masukan disambut dengan gembira.

how do you do

‘How do you do’ atau ‘How are you’?

Pada suatu hari di sebuah kantor…
Fatoni: This is Mr. Grant, our new General Manager…
Sugeng: How do you do, Sir!
Mr. Grant: How do you do!

Keesokan harinya…
Sugeng: Hello Sir, how are you?
Mr. Grant: Very well, thanks!

Jadi, apa beda antara ‘how do you do’ dengan ‘how are you’?

HOW DO YOU DO!

  1. Meskipun dimulai dengan ‘how do’, ungkapan ini bukan sebuah pertanyaan melainkan pernyataan yang artinya mirip dengan ‘Nice/Pleased to meet you’ atau ‘Senang berkenalan dengan Anda’.
  2. Umumnya ‘how do you do’ digunakan dalam perkenalan pertama yang suasananya formal (seperti dalam contoh pertama di atas).
  3. Seperti disebutkan sebelumnya, ‘how do you do’ bukan sebuah kalimat tanya. Dan lazimnya, ‘how do you do’ cukup ditanggapi dengan ‘how do you do’ juga.
  4. ‘How do you do’ masih lazim digunakan di Inggris, namun sudah sangat jarang digunakan di Amerika. Bagi orang Amerika, ‘Nice to meet you’ sudah cukup sopan.

HOW ARE YOU?

  1. Lazimnya digunakan ketika si pembicara sudah kenal dengan lawan bicaranya.
  2. ‘How are you?’ adalah pertanyaan yang membutuhkan jawaban, sama halnya dengan sapaan, ‘Apa kabar?’, maka sebaiknya dijawab.
  3. Kadang ‘How are you?’ juga bisa diutarakan pada perkenalan pertama. Namun biasanya suasana perkenalan ini cenderung santai dan akrab.
  4. Di telinga orang Amerika, ‘how are you doing’ terdengar lebih familiar ketimbang ‘how are you’. Tak jarang juga mereka menggunakannya dalam suasana formal.

PS: English Notes adalah kumpulan catatan penulis dalam hal bahasa Inggris. Ditulis berdasar pengetahuan dan pengalaman pribadi — koreksi, saran, dan masukan disambut dengan gembira.

Si Pemalu & Orang Gila

Kemaren, pada booth kasir di sebuah swalayan…

Saya: (nyodorkan duit seratusribuan)
Mbak Kasir Yang Cantik: Ada tigaribu??
Saya: (ogok-ogok kantong) Buat Mbak, apa sih yang nggak ada…?
Misua: Harusnya aku yang godain dia, kok malah kamu?
Saya: Ya sudah, godain sono…! (trus saya bisikin Mbak Kasir) Mbak, ada pisau, Mbak… Itu lho suami saya mau godain Mbak…
Mbak Kasir Yang Cantik: hahahaha…
Misua: Ini orang memang agak devian, Mbak… (and by ‘Ini orang’ he meant ‘Istri saya’)
Mbak Kasir Yang Cantik: (kayaknya gak ngeh ‘devian’ itu apa, mukanya bingung)
Saya: Lhooo aku ini cuma mewakili kamu… Aku kan tau perasaanmu… Wkwkwkwkwk!
Misua: (ngeloyor keluar swalayan, sepertinya malu, wkwkwkwk!)

***

Kira-kira 11 tahun sebelumnya, saya dan misua yang baru menyandang status PDKT, jalan ke Tunjungan Plaza Surabaya. Dan arti ‘jalan’ di sini bener-bener harafiah: kita jalan kaki dari kampus ke TP. Dan itu bulan puasa, dan itu siang bolong. Inilah kencan pertama kami. Ehehe…

Pada kencan pertama, saya dandan spesial: celana jeans yang biasanya saya pake dan belum dicuci entah berapa minggu. Pake sabuk yang biasanya dengan kepala sabuk di pinggul sebelah kiri (bukan tepat di tengah perut seperti lazimnya orang pake sabuk). Ini juga seperti biasa. Dan pake kaos yang biasanya, dan kebalik seperti biasa — sisi dalam di luar, sisi luar di dalam. Tatanan rambut juga seperti biasa… model rambut kuntilanak baru bangun tidur.

Masuk TP, pintu depannya kan bisa buka-tutup sendiri. Dengan wajah ndeso saya teriak, “Waaaah belum dibuka kok sudah buka-buka sendiri?!”

Satpam yang jaga di belakang pintu senyum-senyum maklum, maka saya sapa, “Selamat siang Paaaak…”

Dan misua (tapi waktu itu statusnya masih pacar-bukan-teman-juga-bukan) langsung nyeret saya menjauh dari situ.

Itu bukan hari pertama saya masuk mall. Tapi di tengah-tengah mall, saya teriak lagi, masih dengan wajah ndeso yang sama, “Wuuuuiiih, gueeeede ya pasarnyaaa?!

Dan tangan misua langsung membungkam mulut saya. Dia malu.

Dia pemalu. Mengingat sifatnya ini rasanya saya beruntung: ada orang pemalu yang mau sama saya yang bobot-bibit-bebetnya manteb begini :D

DSC06876

Air Bisa Melubangi Batu, Softlens Bisa Nancep di Mata

Ini cerita dari ruang UGD sebuah rumah sakit di Blitar. Waktu itu anak saya terpaksa saya larikan ke UGD, tapi ini cerita bukan tentang anak saya melainkan tentang orang lain yang kebetulan seruangan dengan anak saya di ruang UGD.

Seorang gadis remaja dilarikan masuk pake ranjang dorong karena kecelakaan sepeda motor. Di dalam ruang UGD, dia ditanya-tanya soal kejadiaan naas yang menimpanya…

Cewek: Trus tau-tau ada kucing nyebrang, trus saya banting setir ke kanan trus jatuh…
Dokter: Nyetir sendiri apa dibonceng?
Cewek: Nyetir sendiri…
Dokter: Lain kali kalo ada kucing nyebrang tabrak aja. Daripada kamu yang bonyok mending kucingnya kan yang bonyok?

Mbak Perawat kedipin Pak Dokter seakan kirim kode, “Ya nggak bisa gitu juga kali, Doook…”

Dokter: (seakan bergumam sendiri sambil ngeloyor balik ke mejanya) Tapi ya susah juga kalo terpengaruh mitos…

Cek punya cek, dokter anggap si cewek cuma luka ringan. Nggak ada tulang yang patah, cuma beset-beset di tangan, dan kaki. Maka Mbak Perawat pun langsung membersihkan luka-lukanya dengan cekatan. Celana jeans si cewek diguntingnya…

Mbak Perawat: Saya gunting ngawur aja nggak pa-pa ya… Nanti dibenerin sendiri di penjahit biar jadi 3/4, keren!

Setelah berhasil mengoperasi celana jeans, Mbak Perawat ambil kapas, alkohol dan betadine. Kena alkohol dan betadine, si cewek pun menggelinjang sambil mengaduh-ngaduh kesakitan. Nggak cuma aduh, dia juga nangis. Dan air matanya… darahhh…

Semua yang ada di dalam situ sejenak terperanjat. Heran kok bisa nangis darah?! Dengan wajah khawatir, dokter bertanya, “Tadi apa pake kacamata?”

Cewek: Nggak…
Emaknya Si Cewek: Tadi pake softlens?
Cewek: Iya…
Dokter: Coba dilepas softlens-nya…

Mbak Perawat segera membersihkan jari-jari si cewek dari kuman dan kotoran, kemudian dia ambilkan kaca. Si cewek bangkit dari baringnya, duduk, kemudian sambil pegang kaca dia ogok-ogok mata kirinya… satu softlens berhasil dicopot. Lanjut ke mata kanan…

Setelah lama berusaha nyopot softlens-nya, akhirnya dia teriak, “KOK NGGAK BISA DICOPOOOOOT??”

Dan dia nangis darah lagi. Makin banyak nangis, makin banyak darah keluar dari matanya. Saya ngeliat sambil tutup mata. Ngeri booook!!

Sepertinya perkiraan dokter sama dengan perkiraan saya: bola mata si cewek luka kena softlens-nya sendiri. Tapi dokter nggak bisa berbuat apa-apa selain kasi rujukan ke rumah sakit mata buat operasi matanya. Kalo jahit-jahit kecil aja dia bisa (katanya si dokter itu) tapi kalo suruh obok-obok mata orang ya gak bisa. Sambil nulis surat rujukan, dia geleng-geleng dan bergumam sendiri, “ABG sekarang aneh-aneh aja yang dipake…”

Kayanya dokter satu ini hobi nggeremeng…

:)

sidebarPemirsa, memang softlens kelihatannya nggak bahaya karena bahannya tipis dan lembut. Tapi ternyata bisa nancep di mata juga… Saya nggak ngerti begimana ini bisa terjadi. Tapi setelah menyaksikan kejadian itu, saya jadi wanti-wanti diri sendiri untuk menghindari penggunaan softlens. Kalo suatu hari nanti mata saya minus, atau plus, atau silinder, lebih baik saya pake kacamata aja. Kalopun mengalami kecelakaan dan kacamata pecah, setidaknya masih ada kemungkinan mata saya sempat merem ketika ada pecahan kacamata yang hendak menusuk mata. Meski ada juga kemungkinan saya nggak sempat merem menghindari pecahan kacamata, tapi bandingkan kalo pake soflens — merem juga percuma wong bendanya memang sudah nempel di mata.

Mbak Perawat: Lukanya sudah saya bersihkan semua, sekarang kamu saya dandani biar cantik lagi. Kayak bajak laut sih, tapi keren kok… (ngikik sendiri)
Dokter: (nahan ketawa)

Maka dipasanglah perban di mata kanan si cewek ABG. Sementara softlens-nya masih nancep di mata.

Operasi atau Mati

Jadilah pasien yang cerewet, yang rewel. Itu menurut saya. Dan itu yang saya terapkan. Dengan sikap seperti itu ketika sakit, saya memang jadi pasien yang menyebalkan. Tak jarang saya bikin seorang dokter kesel nanganin saya yang banyak tanya dan kadang malah membantah omongan dokter. Pernah ada yang sampe marah dan bilang, “Kamu itu tau apaaaa?!”

Suami saya juga pernah disemprot begitu. Hyahaha!

Rasanya ironis mengingat seorang customer service bisa tetap sabar dan tersenyum meski seharian menghadapi sejumlah pelanggannya yang tanya ini-itu, rewel minta ini-itu, bahkan ngamuk-ngamuk. Kenapa dokter nggak bisa menghadapi pasiennya yang rewel atau banyak tanya?

Karena dokter bukan CS…

Oke, baiklah, fine…

Kita memang nggak pernah sekolah kedokteran tapi kita bisa baca dan kita punya otak yang masih bisa dipake menganalisa masalah dan mencari jalan keluarnya. Apa yang saya tau memang nggak sebanyak yang para dokter tau tapi dengan bawel, dengan banyak tanya, saya jadi nambah tau dan sekaligus bisa menghindarkan diri dari terkaman dokter-dokter yang akan melakukan apa saja demi mengeruk duit saya yang cuma beberapa lembar… demi percobaan mereka, demi penelitian mereka, atau sekedar pengen nyoba pisau baru mereka… I mean, we never know what their truest intentions are. Maka kita yang harus hati-hati. Jangan datang ke dokter dalam kondisi tidak tau apa-apa karena di luar sana nggak sedikit dokter yang suka membodohi orang. In fact, bukankah lazim kalo manusia membodohi sesamanya untuk mencapai tujuannya?

Dokter juga manusia.

Saya nggak bilang semua dokter suka membodohi pasien lho! Masih banyak kok dokter jujur di kota Anda.

Meskipun demikian, sepanjang hidup saya, belum pernah saya nemu dokter yang nggak patronizing, nggak mendikte. Ketika kita mengeluhkan masalah kesehatan kita, bukannya ngasi wawasan apa saja yang kira-kira bisa kita lakukan dan apa saja yang kira-kira bisa mereka bantu, mereka akan serta-merta membuatkan keputusan untuk kita. Seakan-akan mereka pemilik tubuh kita, seakan-akan mereka Tuhan — kalo lo nggak nurutin apa kata gue, fatal akibatnya!

Ini mengerikan mengingat selalu ada pilihan lain dalam hidup ini selain ‘prosedur standar’ mereka. Jalan selalu bercabang. Pada jalan buntu pun ada pilihan mundur. Kalo nggak ada jalan, kita bisa nerabas semak-semak, lapangan, gurun, hutan dan sebagainya. Selalu ada jalan. Ya kan?

Operasi atau Mati

Pengalaman terburuk saya dengan dokter adalah waktu tangan saya patah. Dokter yang menangani saya bilang, “Ini harus dioperasi, operasi tulang.”

Harus?

“Biayanya berapa?” tanya saya.

“16 juta.”

“Wuiiik!!”
“Itu buat 2 kali operasi. Operasi yang pertama buat masangin pen-pennya buat nyambungin tulangnya. Operasi kedua, 6 bulan kemudian, buat ngelepasin pen-pennya,” jelasnya.
“Byuhhh… diedel-edel dong saya!”
“Kamu mau sembuh apa nggak?!!”

That!
T H A T ! !
Seakan satu-satunya cara untuk mengatasi patah tulang adalah dengan operasi pemasangan pen. Dia bilang patahan tulang saya itu modelnya patah remuk, pecahnya ke mana-mana. Kalo nggak dioperasi, takutnya otot-otot di daerah patahan bisa infeksi kena serpihan tulang. Selain itu, ada patahan yang mirip ujung tombak, kalo nggak segera dioperasi, takutnya merobek lapisan kulit dari dalam.

Sambil ngoceh begitu, dia sambil pegang hasil X-ray tangan saya. Tapi nggak sedikitpun dibiarkannya gambar X-ray itu terlihat jelas oleh mata saya. Selalu dikibaskannya atau disembunyikan di balik punggungnya. Gelagat penipu nih! Saya minta X-ray itu dengan menyatakan bahwa hasil X-ray itu hak saya, akhirnya diserahkannya dengan wajah Mike Tyson kalah tinju.

Setelah hasil X-ray saya cermati bareng suami, memang patahan tulang saya mirip tombak, tapi nggak ada serpihan tulang yang dia bilang bisa bikin infeksi. So, apa yang disampaikannya ke saya itu setengahnya adalah kebohongan. Dokter begini nggak cuman satu di sekitar kita kan?! Separuh dari pernyataan mereka adalah truth, separuhnya lagi lies. Well, kebohongan, meski cuma 1/8 bagian dari omongan tetaplah kebohongan. Kalo cuma bohongnya seorang pacar pada pacarnya sih resikonya paling putus cinta. Kalo bohongnya dokter pada pasiennya…

Setelah eyel-eyelan (ada 2 jam itu kita eyel-eyelan di UGD… ahahaha!), dengan kesal dia akhirnya ngaku kalo digips aja sebetulnya juga bisa karena tanpa operasi pun tulang  akan nyambung dengan sendirinya. Tapi dengan nada menakut-nakuti dia bilang kalo nggak dioperasi, bentuk tangan saya nanti nggak akan seperti sebelum patah.

“Kalo pake operasi, tangan saya bisa kembali seperti semula, Dok?”
“Ya… nggak 100% sih…”

“Oke, saya digips aja.”

2 bulan setelah patah tangan saya sudah bisa dipake aktifitas normal. 5 bulan sudah bisa dipake ngangkat ember penuh cucian basah ke loteng buat dijemur. Oke, mungkin itu karena abis dari rumah sakit saya nyari klinik sangkal putung. Hehehe… Biayanya cuma 25 rebu, 3 kali terapi jadi 75 rebu. Bukan 16 juta. Dan, nggak ada rasa ngilu seperti yang dikemukakan teman-teman yang pake pen di patahan tulangnya. No pain. No surgery scars!

Satu cerita lagi…

Adek saya kan kanker ya… Jauh sebelum ada vonis dokter, dari liat gejalanya doang, saya sudah mengira ini kanker. Setelah scan dan lain sebagainya, semingguan yang lalu dokter menyampaikan pada keluarga bahwa Ulfa menderita ‘kanker ganas’.

Mendengar istilah ‘kanker ganas’ terus terang saya merasa geli. Jadi curiga juga itu dokter apa badut?! Hahaha… Mana ada kanker ganas?! Setau saya yang ada itu tumor jinak dan tumor ganas. Dan tumor ganas itu ya kanker itu. Nggak ada itu yang namanya kanker ganas, karena semua kanker itu ganas!

Yang paling saya sesalkan soal dokternya itu adalah ‘ketaatannya’ pada prosedur; bahwa pasien kanker harus begini harus begitu. Adek saya kankernya sudah nggak karu-karuan. Awalnya cuma tumor kecil di ginjal. Dan terakhir kemaren livernya sudah bengkak, syaraf-syaraf matanya nggak fungsi. Dokter bilang, “Ini harus dioperasi. Biayanya 150 juta.”

Duit siapa segitu banyak?! Emang dokter mau mbayarin?! Jelas kagak lah ya… Tapi seakan nggak mau tau, seakan nggak peduli pasien mampu atau kagak, dia nggak ngasi tau kalo di dunia ini ada pilihan lain yang mungkin bisa dicoba pasien kalo nggak mampu operasi. Saya yakin sebagai dokter di kota ketok magic ini dia pasti pernah dengar kabar-kabar gembira seperti orang kanker sudah vonis mati yang mendadak sembuh dengan terapi non-medis. Tapi dia bungkam soal itu.

No. Kita nggak berharap dokter menyarankan cara alternatif, tapi apa salahnya membuka wawasan bahwa ada jalan lain yang mungkin bisa dicoba, kalau si pasien mau. Tentu saja dokter tidak perlu bertanggungjawab kalo terjadi apa-apa pada pasien karena mencoba-coba cara alternatif.

Sekali lagi, sekedar membuka wawasan pasiennya, apa salahnya?

Semingguan dirawat di rumah sakit, diminumin obat-obatan, keadaan Ulfa bukan membaik, malah makin memburuk. Meski saya yakin dia pasti menemukan jalan kesembuhan, tapi gimana-gimana tetap aja rasa khawatir merajalela setiap liat dia tergeletak tak berdaya di ranjangnya — saking menyedihkannya keadaannya si sakit…

Saya tau obat-obatan dari dokter nggak akan banyak membantu. Sudah banyak contohnya. Saya tau di luar sana banyak penderita kanker yang sukses sembuh pake minyak ganja, tapi cari minyak ganja di mana? Secara ganja is ilegal di sini. Saya pernah dengar tentang terapi minyak tanah murni, tapi gimana caranya memurnikan minyak tanah?!

Sampai akhirnya tiga hari yang lalu, keluarganya Ulfa menemukan seorang kyai. Sama kyai itu si Ulfa diterapi, disuruh minum daun imbo.

Setelah 3 hari minum daun imbo, Ulfa cerita (via telepon, karena saya nggak bisa jenguk…) matanya sudah mulai bisa melek meski baru sedikit-sedikit (tadinya merem terus meski nggak lagi tidur, kelopak matanya nggak mau membuka betapapun dia berusaha membukanya). Sekarang juga bisa tidur miring (tadinya nggak bisa), livernya yang bengkak itu sekarang sudah kempes. Dia juga mulai bisa jalan meski dipapah… tadinya cuma bisa di kasur doang, nggak bisa ke mana-mana. Boro-boro jalan… nolehin kepala ke kiri-kanan aja pelan-pelaaaaan!

Daun imbo tumbuh liar di belakang rumah Ulfa. Saya juga sempat piara tanemannya tapi sudah ditebang. Kalo tau dia punya khasiat sehebat itu, nggak bakalan ditebang deeh! Dan… kalo kita tau dari awal daun imbo bisa berbuat segitu banyak, ah sudahlah… semoga ini jalannya. Yang saya sayangkan ya cuma itu tadi… kok pilihannya seakan cuma OPERASI atau MATI.

Lomba Mewarnai

DSC00048

Kemaren lusa, tepatnya hari Sabtu, anak sulung saya ikut lomba mewarnai. Nooo, saya bukan mau pamer anak saya dapat juara. In fact, dia lousy soal mewarnai. Saya mau cerita pengalaman pertamanya ikut lomba mewarnai.

DSC00051Selama TK, dia belum pernah saya ikutkan lomba. Lomba apapun gak pernah, kecuali pertandingan sepakbola. Sudah sering itu guru-gurunya ngasi selebaran meminta anak saya ikut lomba mewarnai. Tapi selebaran saya cuekin aja. Menurut saya lomba-lomba seperti itu lebih banyak efek buruknya ketimbang efek baiknya bagi anak kecil. Jiwa kompetisi, jiwa bersaing dengan orang lain, apa bagusnya?! Saya lebih suka anak saya bersaing dengan dirinya sendiri dan menggunakan skill-nya untuk sesuatu yang lebih bermanfaat ketimbang mendapatkan piala yang akhirnya cuma bakal jadi sarang laba-laba.

Beberapa kali saya bilang sama anak saya, “Punya kemampuan, punya kelebihan, apapun itu, nggak ada gunanya kalo itu nggak membawa kebaikan buat diri Tito sendiri, buat orang-orang dan lingkungan di sekitar kita. Tanpa menghasilkan kebaikan, punya kemampuan sebanyak apapun akhirnya sama saja seperti nggak punya kemampuan apa-apa. Kalo Tito pinter nggambar, gunakan kemampuan itu untuk kebaikan. Mungkin Tito bisa bantu bikin poster buat acara-acara seru di sekolahan Tito, atau bikinin gambar lucu buat teman Tito yang lagi sakit… Atau Tito jual gambar-gambar Tito, dapat duit… Itu jauh lebih berguna ketimbang nggambar buat nyabet piala. Gitu…”

Tapi di lokasi lomba mewarnai, dia tetap ngiler ketika melihat piala berkilauan di atas panggung. Agak kecewa rasanya, tapi saya maklum. Namanya juga manusia, kadang butuh merasa superior.

Demi mendapatkan piala, dia mewarnai mati-matian. Jari-jarinya sampe kaku akibat kelamaan pegang krayon. Saya bilang, “Kalo capek istirahat dulu. Santai aja, Tito… Menang kalah gak ada bedanya.”

Sambil tetap meneruskan mewarnai, Tito sewot jaya… “Beda. Yang menang dapat piala.”

Wow, OK young man! “Kalo yang kanan kaku, pake tangan kiri.”

Dan diapun mewarnai dengan tangan kiri.

Tapi lima menit kemudian dia ambruk. Kecapean. Gambarnya nggak selesai. Saya tengok kiri-kanan, saya lihat ibu-ibu lain pada sibuk mewarnai. Wkwkwkwk… anak-anaknya pada lari-larian, joget-joget gak jelas, atau duduk manis mandorin emaknya yang asik pegang krayon. Ini lomba mewarnai tingkat TK apa tingkat TG (Tante Geboy)?!

DSC00050

Ngiler deh liat susunya… wkwkwkwkwk…

Oke deh… guwe juge bise!!

Tito saya tidurkan di pangkuan dan saya teruskan proses mewarnai gambarnya yang kurang 15% lagi. Selesai. Kumpulkan. Pulang.

“Tito mau piala? Besok kalo gajian Mama belikan.”

Dua Kodok Dalam Belanga

Tersebutlah kisah tentang dua ekor kodok. Yang satu gendut, yang satunya lagi kurus. Pada suatu hari, ketika mereka sedang asik mencari makan bersama, tanpa sengaja mereka kecebur sebuah belanga susu. Mereka tak bisa keluar dari situ karena sisi-sisi belanga itu terlalu licin. Yang bisa mereka lakukan Cuma berenang-renang di dalamnya.

Kemudian kodok gendut berkata pada kodok kurus, “Saudaraku, sepertinya tak ada gunanya kita berenang-renang terus seperti ini. Toh pada akhirnya kita juga akan tenggelam. Lebih baik kita menyerah saja.

“Jangan menyerah, Saudaraku. Tetaplah berenang. Seseorang akan dating dan mengeluarkan kita dari sini suatu saat nanti,” Jawab kodok kurus. Dan mereka pun terus berenang hingga berjam-jam lamanya.

Setelah beberapa waktu, kodok gendut berkata, “Sudah, saudaraku, ini percuma. Aku sudah lelah. Aku mau berhenti berenang saja dan membiarkan diriku tenggelam. Ini kan hari Minggu, tak ada orang yang bekerja. Habislah kita. Tak mungkin kita bisa keluar dari sini.”

Tapi kodok kurus tetap semangat, “Tetaplah mencoba, tetaplah berenang. Sesuatu pasti akan terjadi, berenang saja terus.”

Jam demi jam berlalu, kodok gendut kembali berkata, “Aku sudah tidak tahan lagi. Tak ada gunanya berenang terus karena bagaimanapun juga kita akan tetap tenggelam. Coba pikir, apa gunanya berenang begini?”

Kodok gendut pun berhenti berenang. Ia menyerah. Dan tenggelamlah ia dalam air susu.

Tapi kodok yang kurus tetap berenang. Dan sepuluh menit kemudian ia merasakan ada sesuatu yang padat di bawah kakinya. Rupanya ia telah membuat air susu di bawah kakinya menggumpal jadi mentega. Maka melompatlah ia keluar dari dalam belanga.

Dalam pada menidurkan anak-anak saya barusan mereka saya dongengin cerita di atas. Anak saya yang masih umur 3 dan 2 taun nggak ada reaksi. Anak pertama saya yang umur 6 taun, reaksinya adalah bertanya, “Itu maknanya apa Ma? Apa kodok yang gendut itu bodoh, dan yang kurus itu pintar?”

Saya bilang, “Bukan soal bodoh dan pintar. Ini soal perjuangan. Yang gendut pengennya selamat tapi mudah menyerah. Sedangkan yang kurus, sama pengen selamat juga, tapi nggak mudah menyerah. Gitu…”

Dan anak kedua saya yang umur 4 taun bilang, “Kalo Nuno bilang sih kodok dua ekor itu bodoh semua. Kan bisa itu sambil berenang sambil diminum susunya. Kalo susunya sudah habis kan bisa lompat keluar. Sudah selamat, malah tambah sehat!”

Saya, “O iya ya… bego itu kodoknya…”

Nggak puas dengan cerita kodok. Nuno minta cerita lain, saya ceritakan tentang Bokong Harimau. Barulah dia mau tidur.