Ospek Is Useless

Semoga sekarang ospek sudah nggak ada lagi, karena sesungguhnya — berdasarkan pengalaman — nggak ada gunanya.

Masuk SMP saya diospek, tapi dulu nggak ngerti kalo itu namanya ospek. Disuruh bikin ini-itu, dikasi tugas ini-itu, and all nonsense, saya ikuti. Tapi ternyata nggak ngaruh di rapot, nggak ngaruh di mana-mana.

Tiga taun kemudian, pas masuk SMA, ada ospek lagi dengan nama lain (bukan Masa Orientasi Siswa) yang bikin saya mikir bahwa acara yang berlangsung selama seminggu tersebut wajib diikuti. Saya masuk hari pertama. Berhubung di hari itu saya mendapati bahwa selama seminggu kemudian saya cuma bakal dikerjai, seperti waktu masuk SMP, saya putuskan hari-hari selanjutnya saya bolos aja, baru masuk minggu depannya, di mana hari persekolahan yang normal sudah mulai.

Seminggu berlalu. Ospek sudah usai. Saya pikir kondisi sudah aman, nggak taunya di hari pertama saya sekolah SMA saya dijemur di atas meja yang diletakkan di tengah-tengah lapangan, dari jam 7 sampe jam 9 pagi. Dibentak-bentak sama kakak-kakak kelas atas perkara macem-macem: nggak ikut ospek, nggak pake ikat pinggang yang belinya di koperasi sekolah, sepatu saya ada warna lain selain hitam, rok saya kependekan, baju saya ketipisan.

Waktu mau masuk kuliah, saya dengar kegiatan sejenis ospek sudah dilarang. Seneng dong saya. Nggak taunya…

Hari pertama kuliah, berangkat dengan semangat sebab membayangkan bakal diajari bikin puisi dan bikin novel nanti di kampus. Nggak taunya…

Kakak Kelas: KAMU KENAPA TERLAMBAT?!

Saya: Soalnya telat, Mas.

Kakak Kelas: LHA IYA…KENAPA TELAT?!!

Saya: Soalnya terlambat, Mas.

Kakak Kelas: LHA IYAAAA KENAPA TERLAMBAT?!

Saya: Hadeeeeh…ya biasa Mas, kayak nggak tau aja!

Kakak Kelas: YA SUDAH! MASUK BARISAN!

Dan semua yang di dalam barisan disentak-sentak lebih lama lagi dengan suara yang lebih kenceng lagi oleh beramai-ramai kakak kelas. Saya diem aja daripada bikin mereka punya lebih banyak alasan untuk ngomelin saya. Saya mau hari itu saya selamat.

Selesai disentak-sentak, kita disuruh masuk kelas untuk diajari nyanyi lagu-lagu gak jelas. Kemudian di akhir hari, kita dikasi tugas “besok masuk jam 6 pagi, pake pita, pake karung, pake cabe, bla-bla-bla…”

Saya putuskan saya nggak mau ikut ospek. Tapi saya nggak mau dijemur di atas meja lagi seperti waktu SMA. Solusi yang terpikir: saya musti punya informan yang bisa menyalurkan kabar dari kampus selama saya nggak masuk. Lirik kiri, lirik kanan, nampaklah seorang cowok yang kelihatannya baik hati. Tampangnya oke juga (menurut saya) jadi sekali dayung dua pulau terlampaui: minta nomor telpon buat tanya-tanya info kampus sambil PDKT. Hyahahaha!

first-met2

ehehe…ohoho…ihihi…

Keesokan harinya saya nggak ikut ospek, tapi sorenya saya telpon itu cowok, tanya-tanya ‘besok disuruh apa?’. Dari informasi yang disampaikan, ternyata nggak ada tugas yang penting. Sampe seminggu berlalu, nggak pernah ada tugas yang penting yang diberikan kakak-kakak kelas. Dan ‘penting’ itu adalah yang ngaruh ke nilai, atau kelulusan.

Setaun setelahnya, saya masuk panitia ospek karena pengen liat ospek dari sisi yang lain. Di situ saya mendapati bahwa dalam kepanitiaan: posisi sebagai kakak kelas yang bisa nyentak-nyentak maba adalah posisi yang paling diminati. Pendaftaran dibuka, sebentar kemudian sudah penuh. Dan ketika ospek digelar: maba yang cakep, yang berpenampilan menarik, atau yang bikin ngaceng, bakal jadi yang paling sering dibantai. Bukan karena kakak kelas pada iri, tapi karena kakak kelas seneng ngeliat maba yang amboi aduhai itu dari dekat.

So ospek is useless. Sekedar pesta penyambutan dengan tema dan susunan acara yang sengaja dibikin supaya pesertanya kelimpungan. Mau ikut, monggo. Tapi saya sarankan nggak usah ikut, supaya rantai ospek-mengospeki segera berakhir.

Membuat Gambar Kucing Sederhana

Easy. Untuk membuat gambar kucing sederhana, di sini kita cuma butuh 2 buah lingkaran dan 3 tanda baca. Cuman sayangnya dalam hal graphic-graphic-an, saya pake Corel, bukan Adobe, jadi istilah-istilah yang dipake di sini istilahnya Corel. Tapi nggak usah khawatir, Corel sama Adobe 11/12 aja kok; Anda pasti menemukan ekuivalennya di Adobe Photoshop.kk1
1.  Buat sebuah lingkaran. Bentuk, ukuran, dan warna sesuaikan dengan kebutuhan serta selera Anda :) Ini nanti akan jadi wajah si kucing.

2. Buat sebuah lingkaran lonjong (istilahnya apa ya?? mendadak kok lupa…) ini nanti jadi telinganya.

3. Miringkan telinganya beberapa derajat. Tekan Ctrl+C (copy telinganya)

kk24. Image > Flip > Flip Horizontally. Kemudian Ctrl+V (paste gambar telinganya).

5. Sembunyikan bagian bawah telinga. Caranya: tengok Object Docker, geser layer-layer telinganya ke belakang lingkaran wajah.

6. Dengan Text Tool, ketik 2 buah titik, ‘. .‘ letakkan di wajah kucing — jadilah sepasang mata lucu.

kk37. Mulut kucing: klik Text Tool lagi, ketik tanda kurung tutup ‘)‘.

8. Putar si kurung tutup kira-kira 90 derajat searah jarum jam. Copy. Paste. Geser object hingga membentuk sebuah mulut kucing :)

9. Kumis kucing, pake Text Tool lagi, ketik tanda pemisah (namanya apa sih? :D ) ‘|‘ yang biasanya satu tombol sama backslash ‘\’.

kk410. Putar tanda pemisah tadi kira-kira 90 derajat searah jarum jam (di ilustrasi itu saya pake 85 derajat).

11. Copy. Paste. Putar. Copy. Paste. Putar. Dan seterusnya. Bikin gimana caranya biar mirip kumis kucing. Awas, jangan sampe keriting ya kumisnya (hohoho)

12. Fin!

kk5

Contoh penggunaan gambar kucing tadi: jadi header blog yang (dalam imajinasi saya) berjudul KocengKoneng alias Kucing Kuning dalam bahasa Madura. Langkah-langkah di atas juga bisa digunakan untuk membuat gambar beberapa jenis hewan lainnya seperti anjing, kelinci, ikan, buah-buahan dan mungkin wajah Anda sendiri (hahaha!) selamat umek!

Ngerewess 2

Menatap langit biru di siang bolong, nonton arak-arakan awan yang putih bergumpal-gumpal, saya jadi berpertanyaan dalam diam: ada apa kira-kira di atas sana?

Di atas langit ada Tuhan… bagi kebanyakan orang, mungkin. Tapi saya tidak percaya Tuhan yang seperti itu; Tuhan yang tinggal di atas langit, yang menghitung setiap tindakan manusia yang diciptakannya — yang hidup di atas takdir yang sudah digariskannya — untuk dihakiminya kelak di akhir jaman. Saya percaya Tuhan yang lain, yang menolong mereka yang berusaha dan memberi kebahagiaan pada mereka yang bijaksana dalam setiap tindakannya. Tuhan saya tidak tinggal di langit, tapi di dalam hati nurani, dan dalam pengetahuan.

Jadi ada apa di langit?

Saya terbayang rangkaian-rangkaian biner melesat dalam liuk-liuk gelombang mengantarkan SMS dari dan ke hape kita. Di jalur yang lain, gelombang serupa sedang mengantarkan adegan kekerasan ke layar TV kita.

Saya terbayang batu-batu meteor terbakar habis dalam perjalanannya menuju Bumi. Terbayang juga sebuah bandulan yang tergantung di atas awan-awan (yang tentu saja tidak ada), skydivers, dan pengamat dan pengintai dari planet lain. Kita tak tau. I mean, siapa tau extraterrestrial life ternyata benar berlangsung. Dan life yang saya bayangkan di sini bukan mikroba, bukan juga sekedar DNA trace dari kehidupan yang pernah mekar milyaran tahun lalu di planet lain… I mean, life, like our own… sebuah kehidupan tingkat ribet ras humanoid, atau makhluk bertubuh mirip hewan namun dengan tingkat kecerdasan dan tingkat peradaban mirip manusia Bumi.

Oke, itu barusan mungkin karena kebanyakan nonton Star Trek. Dan ya, beberapa hari sebelum menatap langit biru di siang bolong, saya nonton Star Trek — tontonan favorit saya sejak jaman Majapahit. Saya lupa Star Trek yang mana atau di saluran TV nomor berapa, tapi saya ingat satu kalimat yang diucapkan (kalo nggak salah) oleh Data, si android andalan pesawat Enterprise. Katanya, kira-kira, “manusia membenci semua yang tidak seperti dirinya,”

^ DATA ^

^ DATA ^

…dan saya pikir: betul juga… Contoh sepele saja: banyak orang yang ingin menyeagamakan orang-orang lain yang tidak seagama, sementara itu mereka — beserta banyak orang lain lagi — menyebut hal-hal yang jarang mereka temui sebagai ‘tidak wajar’, atau hal-hal baru sebagai ‘menyimpang’. Meminjam istilah Karl Marx, manusia cenderung ingin ‘menyamakan yang tidak sama’. Dan oya, saya pinjam istilah Karl Marx bukan karena agak-agak nyambung, tapi semata biar keliatan pinter.

Rasa benci pada apa yang tidak seperti diri kita tercermin juga dalam film-film. Seperti film-film yang melibatkan makhluk luar angkasa, alien diketengahkan sebagai makhluk jelek berlendir dan berwatak jahat yang sedang dalam misi jahat pula. Dan lihatlah nasib nasib vampir bermarga Cullen — mereka terpaksa makan sayur untuk meraih hati pemirsa. Otherwise, we’ll slay them in our heads dan Bella akan kita kata-katain sebagai idiot, penyembah setan, dsb. Bagaimana dengan Radu Vladislas? Ada yang peduli dengan kehidupan asmaranya?

radu

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 594 other followers